Kejujuran

image

Sumber ilustrasi: dokumentasi pribadi

Kejujuran adalah sebuah hal yang mulai langka di Republik ini. Setiap hari negara kita selalu bertemu dengan praktek ketidak jujuran dari yang terbesar korupsi mega proyek sampai terkecil yaitu pungli yang dilakukan oleh oknum anggota kepolisian.

Semuah orang di Republik ini mendambakan kejujuran. Namun bersikap naif dengan membiarkan praktek ketidak jujuran tersebut berjalan.

Sedari kecil kita selalu diajarkan oleh orang tua kita untuk berkata baik tapi kurang ditekankan untuk berkata jujur. Disatu sisi orang tua kita tidak mau anaknya menjadi pembohong tapi disisi lain anaknya dimarahi ketika berterus terang. Sekali lagi, ini naif.

Maka dari itu yuk sekarang kita sama-sama introspeksi diri 🙂 mulai berterus terang dan menolak segala bentuk ketidakjujuran. Perubahan sosial yang besar bisa kita lakukan dari diri kita sendiri.

Advertisements

Kepatuhan Buta Akan Agama

image

Ilustrasi. Sumber: shutterstock.com

Tidak heran rasanya menyatakan bahwa saat ini Indonesia sedang mengalami darurat intoleransi. Dari mulai kasus bom panci sampai penolakan jenazah pendukung cagub dan cawagub ahok-djarot.

Saya pun merasa ngga habis pikir apa sih yang ada dibenak para pelaku intoleran itu pikirkan sampai nekat melakukan hal sebodoh itu?

Nurut saat disuruh oleh oknum ulama untuk melakukan aksi teror dengan dalih “jihad” dan iming-iming surga. Iya, itulah kepatuhan buta !
Patuh tanpa berpikir kritis dan tanpa menimbang-nimbang konsekuensi negatif yang akan dihadapi, hanya akan berdampak buruk. Kita yang lahir di dunia dengan budaya ketimuran yang tinggi, sedari kecil sudah diajari untuk patuh secara buta tanpa dididik untuk mempertanyakan apa pun. Contoh: Kita menurut disuruh oleh guru SD kita untuk menggunting kuku kita. Tidak terpikir oleh kita dulu bahwa tidak ada sangkut pautnya antara menggunting kuku dan kualitas intelektual seorang pelajar.

Berpikir Kritis adalah Solusi
Tidak ada cara lain selain mendidik masyarakatnya (terutama pemuda) untuk menjadi manusia yang mengedepankan pola pikir kritis dengan cara merubah kurikulum pendidikan.

Merubah kurikulum yang mengedepankan hapalan dan kepatuhan buta menjadi kurikulum yang mengajak para pelajar untuk aktif mengeksplorasi, mengajukan berbagai pertanyaan, dan berinteraksi secara aktif dengan guru. Serta tidak lupa juga guru harus memberikan penjelasan yang logis dan singkat dengan bahasa yang  mudah dimengerti sesuai mata pelajaran yang menjadi kompetensinya tentang pentingnya belajar mata pelajaran tersebut. Agar siswa tidak malas dan tidak dijejali pertanyaan “kenapa sih gue harus belajar mata pelajaran ini?”

Serta tidak lupa juga guru  harus mengenalkan cara memilah informasi antara yang hoax dan yang benar, antara media objektif dan media yang hanya menyebarkan propaganda. Karena di era keterbukaan informasi seperti sekarang ini, memilah informasi dan bersikap kritis adalah sebuah keharusan ! Agar tidak mudah disetir dan dimanfaatkan pihak lain.

Menyebarkan Toleransi
Untuk meredam atau bahkan menghancurkan intoleransi, hal terpenting yang juga kita bisa lakukan adalah menyebarkan toleransi (lawan kata intoleransi).

Yang kita bisa lakukan untuk bisa menyebarkan toleransi adalah berbaur dengan orang-orang dengan berbagai latar belakang suku dan agama yang berbeda. Dengan berbaur dengan orang-orang yang berbeda kita akan jadi lebih memiliki pemahaman yang luas dan sudut pandang yang baru. Yang membuat
kita menjadikan kita lebih memiliki tenggang rasa dan tidak mudah dihasut memakai nama agama oleh kelompok intoleran.

Oke, gan. Terimakasih banyak untuk menyempatkan membaca artikel saya ini. Nantikan artikel lainnya di lain hari. Jangan sungkan juga untuk berkomentar iya. 🙂

Hijaber di Scene Punk

image

Ullya Primasasti (tengah) adalah seorang hijaber muslimah yang juga anak punk. Sumber: dokumentasi narasumber.

Punk adalah pergerakan pemberontakan yang identik dengan nilai-nilai solidaritas dan kebebasan. Saking bebasnya bahkan beberapa orang beranggapan bahwa pergerakan punk jauh dari nilai-nilai agama. Tapi bagaimana jika ada seorang anak punk yang juga muslimah berhijab yang aktif dalam pergerakan ini? Kali ini saya mewancarai Ullya Primasasti yang merupakan muslimah punk yang berhijab. Bagaimana sih dia bisa berbaur dengan mayoritas anak punk yang tidak religius dan apa yang dia rasakan sebagai hijaber yang berkecimpung di dunia scene punk? Mari baca hasil wawancara saya dibawah ini, agar rasa penasaranmu terpuaskan. Biar ngga mati penasaran, wkwkwk:

A: Sejak kapan anda masuk ke scene punk?

U: I think, i like scene punk since i was elementary school. But, masuk ke dalamnya sejak sma kali ya. Lupa :v

A: Wkwkwk mungkin kamu kebanyakan nonton jav jadi pelupa. Oke lanjut,
gimana sih rasanya jadi hijaber di scene punk?

U: Pemain, bukan penonton hahaha. Minoritas, but i feel bangga. Karena apa iya, mungkin 1:100. Like that.

A: Perna ngga dapet omongan sinis dari sesama pelaku scene punk karena lo berhijab?

U: Sejauh ini sih belum, cuma mereka kaget aja gitu ngeliat aku. Pandanga matanya ngga enak. Like that.

A: Perubahan apa aja sih yang lo rasain saat memutuskan untuk menjadi punk?

U: Actually i feel more and more. More brave. Semacam gairah untuk berontak. Like that.

A: Sub kultur punk lebih sering mendapat asumsi negatif dari masyarakat karena ulah beberapa oknum pelaku scene punk. Nah, apa pendapat pribadi lo tentang hal itu?

U: “Banyak tingkah.” I think, punk ga harus anarkis, turun ke jalan. Eh ga..maksud turun ke jalan ini, turun ke jalan dg alasan yang ngga jelas lho iya. And then, Pendapatku sih, yaitu, banyakan tingkah. Bikin punk makin jelek reputasinya. Tapi, itu hanya oknum tertentu lho iya. Masih banyak kok punk yang yoi. Yang buka perpus jalanan, disini ada.
Like that sih.

A: Oh iya, sejak awal kemunculannya punk ngga perna lepas dari muatan berbagai macam ideologi. Diantara ideologi anarkisme, nihilisme dan komunisme ideologi mana yang lo pilih dan jelasin alesannya.

U: Overall, semua tergantung situasi. Ngga bisa tuh saklek gitu aja. Aku musti ini, aku musti itu. I think, sejauh kita bisa memahami kondisi, dan selagi itu bisa di kntrol, do it aja. Ideologi tuh bisa ngubah orang itu sendiri.

A: Siapa sih tokoh/atau musisi punk yang lo idolain?

U: Aku suka marjinal, sosial2. Lagu2 mereka “ngena”. Kalo mau lebih yoi lagi, punya iwan fals. Kan beliau menyuarakan hati rakyat lewat lagu. Tapi ngga ambil genre punk beliau.

A: Selama ini ide-ide perlawanan punk lebih sering disampaikan lewat musik. Kalo misalnya ide perlawanan punk disampaikan lewat puisi bakal banyak yang tertarik ngga iya?

U: I think bisa sih, sastra kan luas, peminatnya juga pasti banyak. Bisa kali disampaikan lewat puisi.

A: Ada ada. Pertanyaan terakhir, apa saran lo buat para pelaku scene punk tanah air?

U: Jadilah punk yang baik. Baik tutur katanya, baik perilakunya, dan baik hatinya. Tapi, jangan segan-segan melawan jika merasa terancam.

Note: Wawancara ini sebenarnya udah dilakukan sejak tanggal 14 Januari 2017 yang lalu, tapi baru hari ini bisa di publikasikan lewat blog saya ini. Penyebabnya adalah rasa mager saya, huahahaha. Makasih banyak untuk yang telah membaca artikel saya kali ini 🙂 jangan sungkan untuk berkomentar. Opini yang membangun akan saya harapkan sekali.

Sertifikasi Ulama, Kenapa Tidak?

image

Sumber: file pribadi

Wacana sertifikasi ulama rasanya kembali menggema ke publik karena adanya aksi terorisme belum lama ini. Seperti biasa ada pro dan kontra yang terjadi. Banyak dari umat Islam beranggapan bahwa wacana tersebut menghalangi kebebasan ulama dalam berdakwah dan cenderung bersikap curiga terhadap umat Islam. Sementara yang pro sendiri beranggapan bahwa sertifikasi ulama penting untuk dilakukan di Indonesia, karena Indonesia sebagai negara yang memiliki populasi umat Islam terbesar di dunia, harus memiliki program sertifikasi ulama guna menjaga agar para ulama tidak membandel atau menyebarkan ujaran kebencian di dalam rumah peribadatan.

Memahami Hakikat Ulama
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Ulama (ula-ma) adalah orang yang ahli dalam hal atau dalam pengetahuan agama Islam.

Walaupun demikian, ulama pada dasarnya hanya manusia seperti kita. Manusia tidak memiliki kebenaran absolut. Manusia bisa saja sewaktu-waktu salah termasuk juga ulama.

Ulama adalah sebuah label. Baik-buruknya seseorang tidak ditentukan oleh label yang ada pada dirinya. Saya beri sebuah perumpaan: Surti dilabeli oleh teman-temannya sebagai orang yang bodoh, tetapi pada kenyataannya dia bisa mempresentasikan materi geografi dengan spontan, singkat dan jelas. Jadi kesimpulannya adalah sebuah label tidak selalu menentukan sifat seseorang.

Benarkah Sertifikasi Ulama Itu Ancaman?
Banyak ulama yang salah kaprah tentang wacana sertifikasi ulama. Mereka merasa terancam karena takut tidak bisa berdakwah dengan bebas karena selalu dicurigai, pada hal kenyataannya tidak seperti itu.

Program sertifikasi ulama justru dapat dijadikan acuan untuk memilah siapa saja ulama yang layak dan berkualitas untuk berdakwah. Ini adalah sebuah langkah antisipasi yang baik untuk menangkal terorisme. Coba bayangkan kalau ulama-ulama radikal dibiarkan menyebarkan dakwah penuh kebencian dan intolerannya. Masjid yang seharusnya dijadikan tempat untuk menyebarkan syiar kedamaian, justru dijadikan tempat menebarkan kebencian oleh ulama-ulama intoleran dan radikal. Lagi pula, kalau memang ulama-ulama yang menantang wacana tersebut merasa menjadi ulama yang baik dan bertaqwa kepada Allah SWT, kenapa merasa terancam dengan wacana tersebut? Ahh, barangkali mereka takut kehilangan panggung untuk berdakwah.

Silakan berikan komentar anda untuk artikel saya ini. Komentar yang kritis dan membangun akan saya harapkan sekali 🙂 terimakasih !