Sertifikasi Ulama, Kenapa Tidak?

image

Sumber: file pribadi

Wacana sertifikasi ulama rasanya kembali menggema ke publik karena adanya aksi terorisme belum lama ini. Seperti biasa ada pro dan kontra yang terjadi. Banyak dari umat Islam beranggapan bahwa wacana tersebut menghalangi kebebasan ulama dalam berdakwah dan cenderung bersikap curiga terhadap umat Islam. Sementara yang pro sendiri beranggapan bahwa sertifikasi ulama penting untuk dilakukan di Indonesia, karena Indonesia sebagai negara yang memiliki populasi umat Islam terbesar di dunia, harus memiliki program sertifikasi ulama guna menjaga agar para ulama tidak membandel atau menyebarkan ujaran kebencian di dalam rumah peribadatan.

Memahami Hakikat Ulama
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Ulama (ula-ma) adalah orang yang ahli dalam hal atau dalam pengetahuan agama Islam.

Walaupun demikian, ulama pada dasarnya hanya manusia seperti kita. Manusia tidak memiliki kebenaran absolut. Manusia bisa saja sewaktu-waktu salah termasuk juga ulama.

Ulama adalah sebuah label. Baik-buruknya seseorang tidak ditentukan oleh label yang ada pada dirinya. Saya beri sebuah perumpaan: Surti dilabeli oleh teman-temannya sebagai orang yang bodoh, tetapi pada kenyataannya dia bisa mempresentasikan materi geografi dengan spontan, singkat dan jelas. Jadi kesimpulannya adalah sebuah label tidak selalu menentukan sifat seseorang.

Benarkah Sertifikasi Ulama Itu Ancaman?
Banyak ulama yang salah kaprah tentang wacana sertifikasi ulama. Mereka merasa terancam karena takut tidak bisa berdakwah dengan bebas karena selalu dicurigai, pada hal kenyataannya tidak seperti itu.

Program sertifikasi ulama justru dapat dijadikan acuan untuk memilah siapa saja ulama yang layak dan berkualitas untuk berdakwah. Ini adalah sebuah langkah antisipasi yang baik untuk menangkal terorisme. Coba bayangkan kalau ulama-ulama radikal dibiarkan menyebarkan dakwah penuh kebencian dan intolerannya. Masjid yang seharusnya dijadikan tempat untuk menyebarkan syiar kedamaian, justru dijadikan tempat menebarkan kebencian oleh ulama-ulama intoleran dan radikal. Lagi pula, kalau memang ulama-ulama yang menantang wacana tersebut merasa menjadi ulama yang baik dan bertaqwa kepada Allah SWT, kenapa merasa terancam dengan wacana tersebut? Ahh, barangkali mereka takut kehilangan panggung untuk berdakwah.

Silakan berikan komentar anda untuk artikel saya ini. Komentar yang kritis dan membangun akan saya harapkan sekali 🙂 terimakasih !

Advertisements

6 thoughts on “Sertifikasi Ulama, Kenapa Tidak?

  1. Sertifikasi mungkin ada baiknya, tapi dengan banyaknya umat islam di Indonesia dan berbagai banyak aliran (nggg aku gatau apakah ada kata lain yang sesuai selain kata “aliran”) mungkin tampak sulit gitu di Indonesia. Terus, apakah sertifikasi nya menyebar sampe ke desa, pelosok negeri, apakah cuma yang di kota2 aja. Yaaa entahlah ya, namanya juga baru wacana hehehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s