Full Day School yang Membebani

image

Proses KBM di salah satu sekolah. Sumber: yayasan-bppi.or.id


Full day school, sejak awal kemunculannya memang mengundang banyak pro dan kontra.

Kubu yang bersikap pro memandang bahwa kebijakan ini bagus untuk meningkatkan kedisplinan peserta didik dan bisa menjauhkan mereka dari efek negatif pergaulan bebas.

Namun saya sebagai kubu yang kontra menolak mentah-mentah wacana full day school ini !

Pertama, full day school hanya mementingkan kuantitas waktu ketimbang kualitas waktu.

Si anak didik disuruh belajar 8 jam sehari dengan harapan mereka bisa bertambah cerdas. Namun kenyataannya itu hanya membuat mereka semakin capek dan bodoh.

Yang seharusnya menjadi perhatian Kemendikbud adalah – bagaimana caranya agar waktu KBM (Kegiatan Belajar Mengajar)
bisa efektif tanpa harus mengorbankan banyak waktu.

Agar si anak didik dapat menyerap
segala ilmu yang telah diberikan
dengan optimal tanpa merasa terbebani dengan rutinitas sekolah yang bejibun jumlahnya.

Dan kedua pentingnya mengurangi jam belajar di sekolah.

Agar si anak bisa mendapat waktu istirahat yang cukup di rumah.

Jika anak sudah tak mendapat waktu istirahat yang cukup. Otomatis ia akan mudah terkena stres.

Yang imbasnya adalah mengurangnya tingkat produktifitas dalam menjalankan tugasnya sebagai pelajar.

Dan bukan hal yang tidak mungkin
bila si anak didik mencari kesenangan dengan cara yang menyimpang karena rasa jenuh dan lelahnya yang kian menumpuk.

Oke thanks banget yang udah nyempetin baca artikel saya 🙂 maaf ngga bisa mengulas mengenai full day school secara mendetail. Tapi semoga aja artikel saya kali ini bisa berkesan.

Advertisements

Rasa Kurang Bahagia dan Cara Mengatasinya

image

Ilustrasi orang yang sedang kelelahan dan kurang bahagia. Sumber: rd.com

Banyak dari kita yang merasa kurang bahagia dalam menjalani hidup ini. Terlepas apapun itu masalahnya.

Tolak ukur bahagia itu seperti apa? Apakah orang yang mapan dan punya pacar bisa disebut bahagia?  well, ngga juga kok.

Untuk bisa lebih bahagia, kita harus memperhatikan hal berikut:

Cara Melihat Masalah
Banyak temen gue yang punya pacar kece/bahenol plus datang dari keluarga berada tapi hidupnya hambar atau gitu-gitu aja.

Kalau menurut gue pribadi sih bahagia atau tidaknya seseorang itu bisa diliat dari bagaimana cara dia memandang masalah.

Kalau dia menganggap masalah sebagai batu sandungan buat mencapai perubahan, iya otomatis dia jadi kurang bahagia.

Sebaliknya, kalau dia melihat masalah sebagai peluang. Untuk menjadi orang yang lebih dewasa dengan belajar banyak hal dari masalah tersebut.

Maka sudah dapat dipastikan hidupnya akan menjadi lebih bahagia.

Tidak Berlebihan Berekspektasi
Boleh-boleh aja kita berekspektasi terhadap sesuatu.

Karena pada hakikatnya manusia adalah mahkluk yang selalu ingin hal lebih dan tidak perna puas.

Tapi, seyogyanya kita sebagai manusia yang arif dan bijaksana tidak berlebihan dalam melakukan apapun termasuk berekspektasi.

Saat kita berekspektasi berlebihan, kita hanya fokus bermimpi dan mengkhayal. Mengesampingkan upaya dan kerja keras.

Dan saat ekspektasi kita yang jumlahnya bejibun itu ngga terealisasikan. Kita bakal merasa galau/sedih.

Terimakasih banyak telah membaca artikel saya kali ini 🙂 kritik dan saran yang membangun saya akan sambut dengan tangan terbuka.

Sampai ketemu lagi. Kalo mau kasih emot cium juga boleh, huahaha barang kali gemes sama gue. Bye !