Kejujuran

image

Sumber ilustrasi: dokumentasi pribadi

Kejujuran adalah sebuah hal yang mulai langka di Republik ini. Setiap hari negara kita selalu bertemu dengan praktek ketidak jujuran dari yang terbesar korupsi mega proyek sampai terkecil yaitu pungli yang dilakukan oleh oknum anggota kepolisian.

Semuah orang di Republik ini mendambakan kejujuran. Namun bersikap naif dengan membiarkan praktek ketidak jujuran tersebut berjalan.

Sedari kecil kita selalu diajarkan oleh orang tua kita untuk berkata baik tapi kurang ditekankan untuk berkata jujur. Disatu sisi orang tua kita tidak mau anaknya menjadi pembohong tapi disisi lain anaknya dimarahi ketika berterus terang. Sekali lagi, ini naif.

Maka dari itu yuk sekarang kita sama-sama introspeksi diri 🙂 mulai berterus terang dan menolak segala bentuk ketidakjujuran. Perubahan sosial yang besar bisa kita lakukan dari diri kita sendiri.

Sertifikasi Ulama, Kenapa Tidak?

image

Sumber: file pribadi

Wacana sertifikasi ulama rasanya kembali menggema ke publik karena adanya aksi terorisme belum lama ini. Seperti biasa ada pro dan kontra yang terjadi. Banyak dari umat Islam beranggapan bahwa wacana tersebut menghalangi kebebasan ulama dalam berdakwah dan cenderung bersikap curiga terhadap umat Islam. Sementara yang pro sendiri beranggapan bahwa sertifikasi ulama penting untuk dilakukan di Indonesia, karena Indonesia sebagai negara yang memiliki populasi umat Islam terbesar di dunia, harus memiliki program sertifikasi ulama guna menjaga agar para ulama tidak membandel atau menyebarkan ujaran kebencian di dalam rumah peribadatan.

Memahami Hakikat Ulama
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Ulama (ula-ma) adalah orang yang ahli dalam hal atau dalam pengetahuan agama Islam.

Walaupun demikian, ulama pada dasarnya hanya manusia seperti kita. Manusia tidak memiliki kebenaran absolut. Manusia bisa saja sewaktu-waktu salah termasuk juga ulama.

Ulama adalah sebuah label. Baik-buruknya seseorang tidak ditentukan oleh label yang ada pada dirinya. Saya beri sebuah perumpaan: Surti dilabeli oleh teman-temannya sebagai orang yang bodoh, tetapi pada kenyataannya dia bisa mempresentasikan materi geografi dengan spontan, singkat dan jelas. Jadi kesimpulannya adalah sebuah label tidak selalu menentukan sifat seseorang.

Benarkah Sertifikasi Ulama Itu Ancaman?
Banyak ulama yang salah kaprah tentang wacana sertifikasi ulama. Mereka merasa terancam karena takut tidak bisa berdakwah dengan bebas karena selalu dicurigai, pada hal kenyataannya tidak seperti itu.

Program sertifikasi ulama justru dapat dijadikan acuan untuk memilah siapa saja ulama yang layak dan berkualitas untuk berdakwah. Ini adalah sebuah langkah antisipasi yang baik untuk menangkal terorisme. Coba bayangkan kalau ulama-ulama radikal dibiarkan menyebarkan dakwah penuh kebencian dan intolerannya. Masjid yang seharusnya dijadikan tempat untuk menyebarkan syiar kedamaian, justru dijadikan tempat menebarkan kebencian oleh ulama-ulama intoleran dan radikal. Lagi pula, kalau memang ulama-ulama yang menantang wacana tersebut merasa menjadi ulama yang baik dan bertaqwa kepada Allah SWT, kenapa merasa terancam dengan wacana tersebut? Ahh, barangkali mereka takut kehilangan panggung untuk berdakwah.

Silakan berikan komentar anda untuk artikel saya ini. Komentar yang kritis dan membangun akan saya harapkan sekali 🙂 terimakasih !

Masyarakat Gampang Terhasut Hoax, Salah Siapa?

http://www.makanbaso.com

Ngga bisa dipungkiri bahwa banyak banget berita hoax menyebar saat ini lewat media sosial yang menyinggung masalah SARA. Dan yang lebih parahnya adalah banyak masyarakat yang percaya akan berita hoax tsb.

Lantas siapa pihak yang patut disalahkan? Tidak lain dan tidak bukan adalah sistem pendidikan. Sistem pendidikan kita yang menekankan pada hapalan dan kepatuhan buta menjadikan masyarakat (terutama generasi muda) lebih mudah termasuk info hoax.

Masyarakat kita tidak mengecheck kembali apakah berita tersebut kredibel atau tidak. Sekedar mengkonsumsi tapi ngga dicerna, sekedar memilih tapi tidak bisa memilah.

“Ouh, katanya si anu tuh bla…..bla…..bla….bla.”
“Ouh ngga nyangka iya dia bisa kaya git.”

Kurang lebih seperti itulah gambaran masyarakat kita yang lebih percaya “katanya” ketimbang “apa buktinya.”

Solusi
Solusi yang bisa kita capai adalah dengan merubah sistem pendidikan negara kita yang menekankan pada pemahaman dan berpikir kritis dari pada hapalan agar generasi muda menjadi seorang yang memiliki mindset/atau pola pikir yang maju.

Oke, sekian dulu ulasan saya kali ini. Tentunya komentar dan kritik yang membangun sangat saya harapkan dari pembaca. 🙂

Punk dan Sisi Positifnya

Bagi orang awam yang mendengar kata itu pasti langsung terbersit dengan segerombolan anak uraka bercelana ketat dan berambut mohawk yang selalu meresahkan masyarakat dengan keonarannya. Pada jika kita berpikir jernih, punk yang sebenarnya bukan seperti itu ! Punk yang selalu digambarkan masyarakat awam hanya punk poser/punk yang palsu (yang cuma ikut-ikutan). Punk yang sebenarnya adalah ideologi pemberontakan yang beretoskan semangat kemandirian DIY (Do It Yourself) atau kurang lebih artinya lakukan dengan dirimu sendiri. Kali ini gue akan membahas apa aja sisi positif yang bisa kita ambil dari ideologi Punk.

Punya Semangat Kemandirian Tinggi
Mungkin disaat orang-orang menengah kebawah memilih mengemis dan meminjam uang kesana-kesini, tidak demikian dengan anak-anak Punk.

Mereka mencoba memakai uang tabungan mereka dari mengamen atau ngegigs untuk berbisnis berbagai macam
merchandise seperti kaos, jaket dan gelang. Dari menjahit sampai mewarnai jaket mereka lakukan sendiri tanpa ketergantungan korporasi atau orang lain.

Semangat Solidaritas yang Tinggi
Mereka (anak-anak Punk) juga mempunyai solidaritas yang tinggi. Berdasarkan apa yang gue lihat di forum internet para anak punk mengaku punya solidaritas yang tinggi dan ngga mau membiarkan teman mereka sendiri kesusahan. Ibaratnya kalo temennya blom makan dia bakal dengan senang hati nyariin makanan biar bisa makan bareng-bareng.

Selain itu juga penulis seorang punk (tanpa rambut mohawk, hehehe) dan punya teman punk. Dan saat kita nongkrong ngga ada yang boleh asik sendiri sama gadgetnya. Juga ngga ada yang boleh ngopi sama ngemil sendiri, dia rela ngeluarin uangnya buat beli kopi dan cemilan untuk kehangatan kebersamaan nongkrong.

Solusi Untuk Masalah Pengangguran
Kalau ada yang bilang para anak Punk itu urakan dan pengangguran, maka dia salah besar. Punk justru antitesa dari pengangguran. Definisi pengangguran:
Pengangguran atau tuna karya adalah istilah untuk orang yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak (id.wikipedia.)

Nah justru kan Punk selalu berusaha berkarya, menjual berbagai merchandise, menghemat uang dari hasil ngamen/atau ngegigs untuk kebutuhan sehari-harinya. Mereka mengatasi masalah pengangguran dan ekonomi dengan cara kegigihan dan keterampilan seni yang luar biasa.

Punk bisa sangat berguna bagi kelompok mereka sendiri maupun masyarakat umum dan negara karena bisa mengatasi permasalahan kompleks seperti pengangguran dan kemiskinan karena etos DIY mereka.

Pemerintah bisa membantu eksistensi mereka dengan memberi suntikan modal kepada setiap komunitas Punk di berbagai daerah untuk mendukung industri keterampilan rumahan mereka. Selain itu juga pemerintah dapat memberi edukasi ke masyarakat bahwa Punk tidak melulu soal mabuk-mabukan atau kegiatan urakan. Punk mempunyai sisi positif yang harus digali dan sisi negatif yang harus ditinggalkan. Pemerintah dapat membantu mengubah mindset atau pola pikir masyarakat awam yang negatif tentang Punk.

Kritis dan Peka
Sikap anak-anak Punk yang suka mengkritik kebiasaan negatif masyarakat yang konsumtif serta kebijakan pemerintah yang sewenang-sewenang dapat mendidik orang-orang agar berpikir kritis dan peka dengan persoalan yang terjadi agar tidak tinggal diam dan membukam mulut.
Referensi:
http://googleweblight.com/?lite_url=http://andesmario91.blogspot.com/2012/10/makalah-2-perilaku-sosial-anak-punk.html?m%3D1&ei=U7rAOMbs&lc=id-ID&s=1&m=916&host=www.google.co.id&ts=1472812239&sig=AKOVD67-B3pPdJzQt14NAvojubLi1BF5Fw

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Pengangguran

Baca Juga:

Hobi Kecil Penuh Manfaat
Stres Sebuah Renungan
Perhatikan Hal-Hal Ini Sebelum Tidur
Antara Desa dan Ibu Kota