Antara Desa dan Ibu Kota

Menjauh dari segala parasit benalu
Yang kebaradaannya tak membantu
Senyum mereka adalah senyum palsu
Dibalik semuah hal itu
Mereka berniat mencelakaiku

Baringkan tubuh sejenak lihat kejendela
Sambil bayangkan teman-teman lama
Yang baik tak terhingga
Berharap aku bisa cepat-cepat kesana
Dan bertemu mereka semuah
Jadi pelipur sesak di dalam dada

Tak ada yang lebih baik dari teman-teman lama dan keluarga
Yang setia menunggu di desa
Disiniku saban hari disiksa
Oleh kebejatan setan ibu kota
Yeah, aku akan kembali dan menangis bersama
Disana, di sebuah desa.

Baca Juga: Batin yang Jenuh
                     Oknum Politisi
                    

Advertisements

Batin yang Jenuh

Aku kembali membaca, menulis dan belajar
Di malam yang suntuk tak ada hiburan
Buku dan pena menjadi pengobat rasa sepi
Dikala tak ada yang memahami
Dikala mereka sibuk dengan urusan sendiri

Pada sunyinya kamar kecil ini
Aku bercerita pada batinku sendiri
Tentang semuah rasa sakit hati
Yang selalu bersemayam tanpa henti
Apa lagi ketika aku merasa sepi

Mungkin keluar melihat dunia luar
Bisa menjadi langkah besar
Untuk sembuhkan jiwa yang jenuh dan tepar
Terhadap semuah orang munafik berwatak kasar

Oknum Politisi

kumulai hari ini dengan secangkir kopi

berharap mendapat sedikit inspirasi

lalu kunyalakan televisi

kutemui lagi-lagi kasus korupsi

yang dilakuin sama oknum politisi

yang melanggar hak uang rakyat yang asasi

sejenak kumerenungi

tentang berbagai persoalan di negeri ini

yang tak kunjung mendapat solusi

berita krisis negeri seolah menjadi konsumsi sehari-hari

aku jenuh dengan setiap kasus korupsi

yang jadi beban di dalam hati

wahai para wakil rakyat

jangan ngurusin perkara maksiat

urusan perkara rakyat

diluar sana masih banyak yang melarat

gara-gara perbuatan kalian yang jahat

yang  mengaku bermartabat

Senyummu Itu

Iyaku kangen senyummu itu
Yang menghapus kelabu
Di dalam sanubari batinku
Yang buatkku tersipu

Kau adalah sebuah alasan
Mengapa aku bisa tersenyum seharian
Tanpa sebuah keraguan
Kusebut kau sebagai pelipur kesedihan

Dibalik jendela iniku hanya bisa bernostalgia
Tentang canda-tawa kita
Yang hanya bisaku kenang lewat kepala
Dan membebani isi dada

Penindasan

Tindas-menindas terus kau lakukan
Tuk memuaskan rasa amarah
Yang berkecamuk didalam dada
Tidakkah kau pikir itu dosa?
Tidakkah kau pikir itu tercela?

Kau lakukan tuk dapat pengakuan
Dari orang-orang yang kau sebut teman
Jelas sekali nuranimu mati
Karena pengaruh setan yang merasuki

Aku tak bisa tinggal diam
Mulutku tak bisa bungkam
Atas perbuatan kejam
Yang menghasilkan luka mendalam

Demi si korban yang tak berdaya
Yang saban hari terluka
Oleh si penindas beringas
Lagi berniat
Karena terhasut oleh teman-teman terlaknat
Apa boleh buat
Kini tekadku sudah bulat

Tuk menantang penindasa
Ayo para penguasa
Bukalah mata
Tentang pahitnya realita
Yang terjadi di sekitar kita

Penindas Juga Perampas

Mereka hanya menonton
Membungkam mulut
Saat saudaranya ditindas
Hingga hak-haknya dirampas
Bahayanya, guru pun memalingkan muka pura-pura tak tahu
Ia tertunduk putus asa sambil menunggu sesuatu

Sesuatu yang dapat membantunya
Keluar dari kubangan penindasan
Yang melumat bahagia dan kebebasan
Berharap terus berharap sambil memasang senyum palsu
Walaupun tak ada yang membantu, tak ada tempat untuk mengadu

Hingga saatna ia bangkit dan mengusap air mata
Berdiri tegap dan melawan
Ia lepaskan semuah rasa
Lewat sumpah serapah dan kepalan tangan
Hingga ia jatuh tersungkur
Semuah pecundang langsung kabur

Semuahnya berbalik peduli
Saat datag tragedi
Seolah-olah tak ada rasa bersalah
Di dalam diri.

Mengadu Pada Kesendirian

Kubawa ragaku menuju kesendirian
Kubiarkan benakku lepas ke ruang hampa
Lepas dari keramaian dunia
Yang penuh dengan kepalsuan dan tipu daya

Kupeluk semesta dalam-dalam
Tuk lupakan dendam
Tuk hapuskan luka kelam
Yang selalu bersemayam

Kumengadu pada kesendirian
Yang tidak semena-mena menghakimi
Tetapi hanya membalas dengan diam sunyi
Namun dapat membuka sanubari hati

Aku keluarkan semuah rasa
Lewat aliran air mata
Yang sudah tak tertahan didalam dada
Hanya tangisan dan sayup-sayup angin yang bersuara.

Jangan Dirusak

Udaranya sejuk terasa
Pemandangannya kaya akan flora dan fauna
Meringankan mata
Yang lelah akan pemandangan kota

Burung-burung bersiul merdu
Suaranya bagaikan lagu
Yang menyentuh kalbu
Oh, aku tak ingin ini berhenti dulu

Disinilahku benar-benar menikmati
Karya tuhan yang menyentuh hati
Pengobat jiwa yang tersakiti
Semoga tak dirusak oleh orang-orang yang nuraninya mati

Jika pepohonan tak tumbuh lagi
Dan satwa-satwa sudah mati
Oleh mereka yang tak punya nurani
Kita akan makan apa nanti?

Siulan Hati

Oke, aku fokus cari prestasi
Bukan semata cari reputasi
Karena itu akan hilang-pergi
Jangan gantungkan pada hal itu lagi

Aku ingin hilangkan segala beban
Yang ada di dalam pikiran
Agar kepala ini jadi ringan
Agar segalanya menjadi menyenangkan

Aku bukan orang yg suka cari muka
Aku tak memaksa mereka untuk suka
Dengan kepribadianku yang sederhana
Aku tetap berusaha hadapi dengan bijaksana

Kadang memang sedih terasa
Dan berlangsung lama
Tapi tak apa
Kutetap hadapi semuah
Walau bagaimanapun juga
Yang penting orang tua merasa lega

Ketika anaknya ini ceria
Tertawa bahagia
Merasa dilahirkan tanpa sia-sia.

Siulan Hati

Oke, aku fokus cari prestasi
Bukan semata cari reputasi
Karena itu akan hilang-pergi
Jangan gantungkan pada hal itu lagi

Aku ingin hilangkan segala beban
Yang ada di dalam pikiran
Agar kepala ini jadi ringan
Agar segalanya menjadi menyenangkan

Aku bukan orang yg suka cari muka
Aku tak memaksa mereka untuk suka
Dengan kepribadianku yang sederhana
Aku tetap berusaha hadapi dengan bijaksana

Kadang memang sedih terasa
Dan berlangsung lama
Tapi tak apa
Kutetap hadapi semuah
Walau bagaimanapun juga
Yang penting orang tua merasa lega

Ketika anaknya ini ceria
Tertawa bahagia
Merasa dilahirkan tanpa sia-sia