Rasa Kurang Bahagia dan Cara Mengatasinya

image

Ilustrasi orang yang sedang kelelahan dan kurang bahagia. Sumber: rd.com

Banyak dari kita yang merasa kurang bahagia dalam menjalani hidup ini. Terlepas apapun itu masalahnya.

Tolak ukur bahagia itu seperti apa? Apakah orang yang mapan dan punya pacar bisa disebut bahagia?  well, ngga juga kok.

Untuk bisa lebih bahagia, kita harus memperhatikan hal berikut:

Cara Melihat Masalah
Banyak temen gue yang punya pacar kece/bahenol plus datang dari keluarga berada tapi hidupnya hambar atau gitu-gitu aja.

Kalau menurut gue pribadi sih bahagia atau tidaknya seseorang itu bisa diliat dari bagaimana cara dia memandang masalah.

Kalau dia menganggap masalah sebagai batu sandungan buat mencapai perubahan, iya otomatis dia jadi kurang bahagia.

Sebaliknya, kalau dia melihat masalah sebagai peluang. Untuk menjadi orang yang lebih dewasa dengan belajar banyak hal dari masalah tersebut.

Maka sudah dapat dipastikan hidupnya akan menjadi lebih bahagia.

Tidak Berlebihan Berekspektasi
Boleh-boleh aja kita berekspektasi terhadap sesuatu.

Karena pada hakikatnya manusia adalah mahkluk yang selalu ingin hal lebih dan tidak perna puas.

Tapi, seyogyanya kita sebagai manusia yang arif dan bijaksana tidak berlebihan dalam melakukan apapun termasuk berekspektasi.

Saat kita berekspektasi berlebihan, kita hanya fokus bermimpi dan mengkhayal. Mengesampingkan upaya dan kerja keras.

Dan saat ekspektasi kita yang jumlahnya bejibun itu ngga terealisasikan. Kita bakal merasa galau/sedih.

Terimakasih banyak telah membaca artikel saya kali ini 🙂 kritik dan saran yang membangun saya akan sambut dengan tangan terbuka.

Sampai ketemu lagi. Kalo mau kasih emot cium juga boleh, huahaha barang kali gemes sama gue. Bye !

Advertisements

Alasan Mengapa Masa Kecil Lebih Membahagiakan

Adverse-Childhood-Experiences_Live-Well-Lamoille

Ilustrasi anak-anak sedang bermain. Sumber ilustrasi: http://www.livewelllamoille.com

Kenapa iya saat kita masih kecil pikiran kita tidak begitu terbebani. Menjalani waktu dari hari ke hari dengan rasa ceria dan tanpa merasa stres sama sekali. Sungguh waktu-waktu yang sangat menyenangkan bukan?

Nah, pada kesampatan kali saya ini membahas kenapa sih kita jadi lebih bahagia saat waktu kecil ketimbang saat berada dimasa remaja maupun dewasa. Kuy, simak penjelasannya berikut ini…………….

Lebih Banyak Tertawa

Saat kita masih berstatus sebagai anak kecil, kita lebih banyak menghabiskan waktu kita dengan tertawa. Entah itu tertawa saat menonton serial kartun kesukaan atau pun berteman dengan teman-teman sebaya.

Nah, hal tersebut langsung membuat hormon cortisol dan epinephrine yang menjadi penyebab stres menurun drastis karena disalurkan oleh ekspresi keriangan kita yang disebut tawa.

Jujur Dalam Berekspresi

Menangis tersedu-sedu, tertawa ngakak dan ngambek-ngambekan menjadi hal yang lumrah terjadi saat kita masih kecil. Saat kita menangis misalnya kita tidak merasa malu dan sungkan mengekspresikannya. Lho kenapa? Karena kita belum mengenal yang namanya gengsi, nama baik atau pun reputasi.

Saat kita menjadi seorang remaja atau orang dewasa, kita memikirkan reputasi. Kita menganggapnya sebagai tujuan mencapai kebahagian. Saat kita gagal untuk mencapai reputasi yang baik, kita akan merasa stres. Pada hal seharusnya kita sadar bahwa reputasi itu hal yang fana dan tidak abadi.

Orang yang tidak jujur dalam berekespresi dan memilih untuk memendam emosinya cenderung untuk terus-menerus berpikiran negatif dan mengakibatkan tubuhnya memproduksi hormon stres yang membuat hidupnya kurang produktif dan bersemangat.

Saya ngga menganjurkan kamu untuk tertawa ngakak dan menangis bombai di depan keramaian. Karena ada kalanya image diri juga perlu. Saya cuman menganjurkan agar kamu lebih jujur berekspresi dengan memperhatikan situasi. Contoh: ketika kamu ingin menangis, pilihlah tempat yang sepi.

Tidak Memikirkan Banyak Tuntutan

Saat kita kecil kita tidak dituntut dengan banyak hal seperti harus kuliah di universitas ternama, mendapat pekerjaan bergaji tinggi atau pun reputasi yang sempurna.

Saat kita kecil kita hanya dituntut untuk menjadi anak yang baik. Yang tak lupa makan, memperlakukan sesama dengan ramah dan penuh perhatian.

Beda halnya saat kita menjadi remaja atau pun dewasa. Kita dituntut untuk memiliki penampilan yang keren, punya pacar biar ngga dibilang “jones,” punya banyak uang biar ngga malu-maluin, dituntut ini dituntut itu oleh lingkungan sosial kita. Kita jadi lupa untuk menikmati hidup dan hidup kita diperbudak oleh persepsi orang lain. Kita menjadi orang yang sok jaim !

Silakan beri komentar kamu dikolom komentar 🙂

Referensi: http://www.psikoma.com/alasan-mengapa-masa-kecil-itu-lebih-bahagia/

http://www.akusehatku.com/2013/08/10-manfaat-tertawa-bagi-kesehatan.html

http://manfaat.co.id/18-manfaat-tertawa-bagi-kesehatan

https://hellosehat.com/bahaya-memendam-emosi/