Hijaber di Scene Punk

image

Ullya Primasasti (tengah) adalah seorang hijaber muslimah yang juga anak punk. Sumber: dokumentasi narasumber.

Punk adalah pergerakan pemberontakan yang identik dengan nilai-nilai solidaritas dan kebebasan. Saking bebasnya bahkan beberapa orang beranggapan bahwa pergerakan punk jauh dari nilai-nilai agama. Tapi bagaimana jika ada seorang anak punk yang juga muslimah berhijab yang aktif dalam pergerakan ini? Kali ini saya mewancarai Ullya Primasasti yang merupakan muslimah punk yang berhijab. Bagaimana sih dia bisa berbaur dengan mayoritas anak punk yang tidak religius dan apa yang dia rasakan sebagai hijaber yang berkecimpung di dunia scene punk? Mari baca hasil wawancara saya dibawah ini, agar rasa penasaranmu terpuaskan. Biar ngga mati penasaran, wkwkwk:

A: Sejak kapan anda masuk ke scene punk?

U: I think, i like scene punk since i was elementary school. But, masuk ke dalamnya sejak sma kali ya. Lupa :v

A: Wkwkwk mungkin kamu kebanyakan nonton jav jadi pelupa. Oke lanjut,
gimana sih rasanya jadi hijaber di scene punk?

U: Pemain, bukan penonton hahaha. Minoritas, but i feel bangga. Karena apa iya, mungkin 1:100. Like that.

A: Perna ngga dapet omongan sinis dari sesama pelaku scene punk karena lo berhijab?

U: Sejauh ini sih belum, cuma mereka kaget aja gitu ngeliat aku. Pandanga matanya ngga enak. Like that.

A: Perubahan apa aja sih yang lo rasain saat memutuskan untuk menjadi punk?

U: Actually i feel more and more. More brave. Semacam gairah untuk berontak. Like that.

A: Sub kultur punk lebih sering mendapat asumsi negatif dari masyarakat karena ulah beberapa oknum pelaku scene punk. Nah, apa pendapat pribadi lo tentang hal itu?

U: “Banyak tingkah.” I think, punk ga harus anarkis, turun ke jalan. Eh ga..maksud turun ke jalan ini, turun ke jalan dg alasan yang ngga jelas lho iya. And then, Pendapatku sih, yaitu, banyakan tingkah. Bikin punk makin jelek reputasinya. Tapi, itu hanya oknum tertentu lho iya. Masih banyak kok punk yang yoi. Yang buka perpus jalanan, disini ada.
Like that sih.

A: Oh iya, sejak awal kemunculannya punk ngga perna lepas dari muatan berbagai macam ideologi. Diantara ideologi anarkisme, nihilisme dan komunisme ideologi mana yang lo pilih dan jelasin alesannya.

U: Overall, semua tergantung situasi. Ngga bisa tuh saklek gitu aja. Aku musti ini, aku musti itu. I think, sejauh kita bisa memahami kondisi, dan selagi itu bisa di kntrol, do it aja. Ideologi tuh bisa ngubah orang itu sendiri.

A: Siapa sih tokoh/atau musisi punk yang lo idolain?

U: Aku suka marjinal, sosial2. Lagu2 mereka “ngena”. Kalo mau lebih yoi lagi, punya iwan fals. Kan beliau menyuarakan hati rakyat lewat lagu. Tapi ngga ambil genre punk beliau.

A: Selama ini ide-ide perlawanan punk lebih sering disampaikan lewat musik. Kalo misalnya ide perlawanan punk disampaikan lewat puisi bakal banyak yang tertarik ngga iya?

U: I think bisa sih, sastra kan luas, peminatnya juga pasti banyak. Bisa kali disampaikan lewat puisi.

A: Ada ada. Pertanyaan terakhir, apa saran lo buat para pelaku scene punk tanah air?

U: Jadilah punk yang baik. Baik tutur katanya, baik perilakunya, dan baik hatinya. Tapi, jangan segan-segan melawan jika merasa terancam.

Note: Wawancara ini sebenarnya udah dilakukan sejak tanggal 14 Januari 2017 yang lalu, tapi baru hari ini bisa di publikasikan lewat blog saya ini. Penyebabnya adalah rasa mager saya, huahahaha. Makasih banyak untuk yang telah membaca artikel saya kali ini 🙂 jangan sungkan untuk berkomentar. Opini yang membangun akan saya harapkan sekali.

Advertisements